Meteor Dalam Al Qur’an dan Hadist

Meteor Dalam Al Qur’an dan Hadist

Meteor merupakan pecahan dari bintang bintang, satelit maupun planet yang melepaskan daya tariknya, kecepatan yang melepaskan diri dari induknya berkisar antara 60-100 km per detik.

Saat pecahan bintang satelit atau planet ini bergesekan dengan atmosfer, gesekkan tersebut kemudian akan menimbulkan panas dan akan menimbulkan pijar yang menyala dalam bentuk pecahan kecil.

Meteor sendiri dalam Al Qur’an disebutkan dalam 3 bagian yaitu

“Susungguhnya Aku telah menciptakan gugusan bintang (dilangit) dan Aku telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang-nya (16), Aku menjaganya dari setiap syaitan yang terkutuk,(17), kecuali syaitan yang mencurri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang(18)” (QS. Al-Hijr:16-18)

“Sesungguhnya Aku telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, Akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang terang.” (QS. As-Shaffat: 6 – 10)

“Sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS. Al-Jin: 8 – 9)

Selain di dalam Al Qur’an Hadist nabi pun ada yang membahas tentang meteor yaitu :

“Apabila Allah menetapkan suatu ketetapan di langit maka para malaikat mengepakkan sayap mereka karena tunduk terhadap firman-Nya, seperti layaknya suara rantai yang digesek di atas batu. Setelah rasa takut itu dicabut dari hati para malaikat, mereka bertanya-tanya: ‘Apa yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?’ Malaikat yang mendengar menjawab, ‘Dia berfirman yang benar. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.’ Bisikan malaikat ini didengar oleh jin pencuri berita. Pencuri berita modusnya dengan ‘pundi-pundian’ (jin yang bawah menjadi penopang bagi jin yang di atasnya, bertingkat terus ke atas). Jin yang paling atas mendengar ucapan malaikat, kemudian disampaikan ke jin bawahnya, dan seterusnya, hingga jin yang paling bawah menyampaikannya kepada tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka mendapat panah api sebelum dia sampaikan kepada dukun, dan terkadang berhasil disampaikan sebelum terkena panah api. Kemudian dicampur dengan 100 kedustaan. (sehingga ada 1 yang benar). Orang mengatakan, bukankah pak dukun telah mengatakan demikian dan dia benar? Akhirnya sang dukun dibenarkan dengan satu kalimat yang benar yang dicuri dari langit. (HR. Bukhari 4800).

“..terkadang dia terkena panah api sebelum menyampaikan kepada jin yang berada di bawahnya, dan terkadang tidak terkena panah api, sehingga berhasil dia sampaikan kepada jin di bawahnya.” (Shahih Ibn Hibban, no. 36).

Dalam Hadist dan ayat diatas dapat kita ambil kesimpulan yaitu meteor merupakan panah api yang dilempar malaikat untuk menghalau jin dan syetan yang ingin mencoba menguping rahasia langit.

Sikap kita akan hal ini yaitu pertama sebagai orang yang beriman kepada Allah dan kitabnya hendaknya kita tidak ngeyel dan menganggap hal ini tidak masuk akal sehingga menolaknya. Karena hal ini termasuk sesuatu yang dilluar jangkauan kemampuan manusia.

Selain itu tidak sebenarnya tidak ada pertentangan antara kesimpulan ahli astronomi dan penjelasan syariah. Dimana dari ayat dan hadist diatas  dijabarkan bahwa meteor dilemparkan secara terus menerus karena setan dan jin selalu mencoba mencuri dengar secara terus menerus. Sehingga sesuai dengan kejadian realita dimana meteor terjadi secara kontinyu

Sehingga dapat disimpulkan, tidak ada pertentangan, antara penjelasan ilmiah syariah dengan keterangan menurut ilmu sains.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *